Skip to main content

Posts

Fatamorgana

Fatamorgana Cerah bukan lagi hidup, kutemui ia pilu Mendung tak lagi damai, kini ia hanya lara Angin berhenti bisikkan rindu, berganti sayatkan luka Kamu bius, kamu candu Perlahan terbangun, tersadar Terbakar terik mentari di tengah gurun sunyi Sendiri, tersesat, hilang Rupanya, semesta sedang bermain denganku Mengingatkanku lagi Detik membeku, kemudian aku tahu Segala kamu, fatamorgana -ra

Menepi

Menepi Terlalu cepat, terlalu samar Berputar tanpa henti Mainkan topeng di sana sini Ia mengamati, ia bungkam Detik membunuh perlahan Muak, benci Gelapkan saja dunia Heningkan segala riuh yang ada Lenyapkan berbagai rasa Ingin buta, ingin tuli, ingin kebas! Sejenak, aku hanya ingin menepi... -ra

Hujan dan Kamu

Hujan dan Kamu Ada dua hal yang kuhindari kehadirannya; hujan dan kamu Hujan menghanyutkan sadarku Membius dengan petrichor, pisahkan jauh harap Membawa potongan memori terdalam naik ke permukaan Tak tahu mana yang harus kulakukan; bertahan atau beranjak Kamu meruntuhkan pertahananku Memecahnya hingga keping terkecil Hingga remahnya larut tak berbekas Tak tahu mana yang harus kutunjukkan; tawa atau tangis -ra

Kenangan Terindah

" Memory is a way of holding onto the things you love, the things you are, the things you never want to lose." - The Wonder Years Selamat siang menjelang sore! Gue kembali lagi. Posting gue kali ini bertujuan untuk menunaikan tugas blog mingguan. Mumpung banget lagi tau apa yang mau ditulis dan kenangan lagi mengalir dan suasana hati agak sensitif #lah. Di luar sana juga hujan. Lengkap deh. Hujan emang suasana paling pas untuk menulis. Oke lanjut. Tema blog untuk dua minggu ke depan adalah kenangan terindah. Sebenarnya kalau kenangan terindah itu banyak. Sangat banyak malahan. Terutama saat-saat bersama keluarga dan teman, lebih banyak yang berakhir sebagai kenangan terindah dibandingkan menjadi sesuatu yang sangat ingin dilupakan. Jadi, gue sudah memilih dua pengalaman yang menurut gue paling indah. Kenapa? Karena saat gue mengalami dua hal tersebut, gue merasakan yang namanya nangis-saking-senengnya. Ternyata hal itu bisa terjadi loh. Hahaha. Kenangan pertama...

Jengah

Jengah Ketika kata setajam belati Menggores pilu mengoyak hati Masihkah berucap? Ketika laku segelap bayang Ada namun tersirat Masihkah terlihat cahaya? Ketika ego sekeras batu Saling beradu percikkan api Masihkah berselisih? Saat sabar berkelana jauh Gantikan percaya dengan kecewa Jengah datang kemudian Tak ada kata tak ada laku Tak ada ego tak ada rasa Murka terpendam di kedalaman Menunggu bangkit ke permukaan Layaknya langit siang Tumpah segala amarah Jutaan liter membasahi bumi Guntur bersahutan getarkan hati Kilat meyambar silaukan mata Hai kamu yang ego sendiri Masihkah tak menyadari? -ra